Perjanan Seorang Supir menuju Jalan Sufi part 2
Dalam benakku selama dalam perjalanan, aku akan tinggal di kota besar (IBU KOTA NEGARA), ternyata setelah aku sampai di tujuan tidak seperti apa yang kubayangkan. Kami sampai di sebuah desa yang bernama SUKA MANDI kecamatan Ciasam Girang Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat. Minggu pertama kami sampai di Sukamandi.. Aku dan Bapak ku mulai merapih-rapihkan tempat untuk berjualan kaki lima di Depan Sebuah RESTORAN milik adik sepupu Bapakku.Malang tak dapat di tolak mujur tak dapat di raih itulah pepatah orang-orang di kampungku dulu. Pekerjaan baru yang aku geluti adalah membantu Bapakku berjualan di kaki lima yang umumnya jualan mulai dari jam 17:00 WIB sampai jam 09:00 WIB.
Begitulah keseharian hidupku sampai bertahun-tahun lamanya. Dan pada akhirnya singkat cerita kami dapat berkumpul dengan Ibundaku kakak dan adik-adikku di Sukamandi.
Berselang waktu kurang lebih 6 thn kami berkumpul di sukamandi. Saat itu aku berusia 18 tahun. Ujian ALLAH swt kembali menerpa keluarga kami.. Kehidupan keluarga kami sedang mulai membaik timbul fitnah dari keluarga bapak. Tanpa ada penjelasan sedikitpun dari adik sepupu bapakku yang punya restoran tempat kami bejualan, kami di usir dari tempat itu. Mendengar berita seperti itu bapak dan Ibundaku hanya pasrah dan diam. Berselang waktu 3 jam, setelah itu bapakku sudah mulai mengumpulkan barang barang untuk mempersiapkan diri kembali pulang ke kampung.
Ke esokkan hari nya Bapak dan Ibundaku beserta kakak dan adik-adikku berangkat naik mobil umum kembali ke kampung. Aku tidak ikut pulang ke kampung. Entah kenapa, sejak hari itu aku yang taat beragama dari kecil berubah arah. Ada semacam rasa dendam dan marah dan pemberontakan dalam diri. Aku ingin jadi pereman. Ya, yang ada dalam pikiranku aku harus bisa jadi jagoan di terminal bus LAPANGAN BANTENG waktu itu.
Maka mulai saat itu mulailah aku melalang buana mencari ILMU dari ujung kulon Banten, sampai ke banyuwangi aku datangi orang-orang yang dianggap punya kelebihan.. Dalam pikiranku seakan sudah terpatri hidup atau mati aku harus bisa jadi centeng dan tidak harus bekerja lagi, jadi pecundang dan di usir kesana kemari.
Sudah cukup rasanya bekal untuk aku turun ke dunia yang selama ini berlawanan dengan batinku, akhirnya aku paksakan juga untuk mencobanya, namun hati kecilku tetap berkata, ini adalah jalan yang salah. Aku hidup serampangan tiada hari-hari yang ku lalui tanpa meminum minuman beralkohol dan ganja.
Rasa luka dan kecewa yang terpendam dalam dada membuat aku jadi orang yang tidak pernah merasa takut dalam hal apapun. Rasqa takut seakan sudah pergi jauh dari diri ku. Tapi satu hal yang berubah, aku menjadi orang yang sangat sensitif dan peka melihat orang-orang yang susah. Karena aku selalu melihat diriku ada dalam setiap kesuahan itu.
Bertahun-tahun aku lalui kehidupan yang tidak ada kejelasan nya sampai-sampai aku tidak mau tau lgi tentang diriku sendiri. Pada suatu saat aku sedang duduk-duduk di terminal bus, aku melihat ibu-ibu yang sedang menggendong bayi, sementara tiga anknya yang lain mengikuti ibu itu sambil memegang baju sang ibu menyebrangi jalan pembatas masuk terminal bus.
Melihat adegan itu, aku merasa disentakkan dari kehidupanku yang gelap selama ini, betapa sabar sang ibu itu menuntun dan menjaga anak anaknya. Seketika itu pikiranku melayang, ingat kembali waktu masa aku kecil di kampung bersama Ibundaku. Tanpa ku sadari air mata perlahan mulai menetes. Aku rindu Ibu & Bapak dan saudara-saudarku yang sudah berbilang tahun lamanya kami berpisah.
BERSAMBUNG............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar