Senin, 29 November 2010

Perjalanan seorang supir

Perjalanan Seorang Supir Menuju Jalan Sufi : Part 1
Terlahir Kurang lebih setengah Abad yang lalu, ditengah keluarga yang sangat miskin di sebuah desa Tanjung Durian Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar Propinsi SUMATERA BARAT.

Karena deraan hidup yang tidak berkecukupan jangankan untuk mengecap pendidikan tinggi seperti teman2 sebaya untuk makan sekali seharipun susah di dapatkan.............

Di Usia 8 tahun sudah harus berjuang ketengah hutan bersama sama dengan Bapak / Ibu dan dua orang kakak perempuan mencari kayu bakar untuk di jual atau di tukar dengan beras untuk menyambung hidup hari ke hari.

Dengan berbekal harapan dan didikan Agama yang selalu ditanamkan oleh Ibundaku. Aku tidak pernah mengeluh walau terkadang perut lapar, aku tidak ingin mengecewakan apa lagi untuk mempermalukan orang yang sangat aku sayang dan ku hormati ( Bapak & Ibu ). Kebiasaan dan tugasku yang sudah dibagi oleh Ibu.

Di usia 7 tahun aku sudah terbiasa malam hari berpisah dengan Bpk/Ibu dan kakak. Umumnya di desaku Anak laki2 di Usia 7 tahun tidak ada yang tidur di rumah orang tuanya. Kami dibiasakan tidur di SUARAU (musholah). Pada waktu itu ingin rasanya aku menyampaikan sesuatu pertanyaan kepada ke dua orang tuaku tapi pertanyaan itu tak kunjung anggup untuk aku tanyakan pada mereka, aku takut mengecewakan beliau.

Tradisi di desaku anak laki-laki wajib belajar pencak silat dan tidur di surau. Sebelum kami tidur guru mengaji kami sering bercerita tentang perjalanan para NABI dan RASUL. Kami tidur di surau beralaskan tikar sobek itupun kadang-kadang ada dan kadang-kadang tidak ada tikar. Di tengah malam yang begitu dingin, sering aku melamun dan berkhayal.

Pagi (subuh) kami bangun sama-sama dan Sholat berjamaah, setelah itu baru pulang ke rumah masing-masing.. Dan akulah orang yang paling sering dijemput orang tuaku ke surau untuk dibawa pulang ke rumah. Bukannya aku dijemput karena terlambat pulang, tapi karena aku sering tak mampu lagi berjalan pulang karena kelaparan........

Dan biasanya jam 7.00 pagi kami sudah berangkat berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 1,5 Km. Jika jam 12 datang dan lonceng sekolah berbunyi menandakan sudah boleh pulang, aku selalu berlari agar cepat sampai di rumah dan segera menyerbu piring nasi yang sudah dibagikan oleh Ibu. Cukup tidak cukup nasi sepiring itulah jatah makan pada hari itu.

Setelah makan dan sholat Dzuhur, aku kami bersama-sama berangkat kehutan mencari kayu untuk di tukar dengan beras, begitah keseharian kami. Sekitar jam 16:00 mau masuk waktu ashar barulah kami pulang dengan beban kayu di pundak masing-masing.

Sampai di rumah mandi dan dapat jatah makan seadanya. Jam 17:30 berangkat lagi ke Surau untuk sholat Maghrib berjamaah, lalu mengaji sampai waktu Isya, setelah sholat Isya kembali ke rutinitas belajar pencak silat. Begitulah keadaan ku bertahun-tahun di kampung yang selalu aku kenang, disitulah aku menempah kehidupanku sampai hari ini tetap aku jaga apa yang kumilkii .

Satu satunya cita- cita di masa kecil itu, ingin pergi MERANTAU, ingin merubah nasibku yang serba sulit. Hampir setiap subuh aku berkhayal ingin pergi ke kota seperti cerita orang-orang yang sudah pernah MERANTAU.

Tapi itu hanya khayalan belaka, nyatanya aku sampai kelas 4 SD masih tetap tidak berubah dari kehidupan yang sudah sudah. Selama aku sekolah dari kls 1 SD sampai naik kls 5 SD belum pernah kakiku merasakan yang namanya sandal, apalagi sepatu. aku sekolah dengan kaki telanjang.

Namun daalam kegetiran hidup keluarga kami, aku tidak mau patah semangat seperti yang selalu di ajarkan guru tempat kami mengaji, yang masih bersih dalam ingatanku kata-kata beliau sampai saat ini adalah; “ALLAH benci sama orang yang suka berkeluh kesah dan cengeng,” kata guruku.

Karena itu jualah barangkali, dengan rutinitas kehidupan siang dan malam selama 4 thn yang tidak ada perubahan itu. Keinginan hati untuk pergi meninggalkan kampung, semakin kuat.

Alhamdulillah waktu aku naik kls 5 SD, pamanku menawarkan untuk tinggal bersamanya di sebuah kota kecil waktu itu dan beliau berjanji akan menyekolahkan aku. Waktu itu bapakku menetujui dan berkata bawa sajalah. Sementara disisi lain Ibunda ku diam tanpa kata, yang terdengar hanyalh isak tangis untuk melepaskan anak laki-laki tertuanya yang akan pergi kerantau orang, diusia muda yang baru 11 tahun.

Sebelum aku berangkat dengan paman, Ibu selalu berpesan agar aku datang untuk menemui orang-orang tua (tetua) dikampung yang pernah mengajarkan aku dalam segala hal tentang apa saja demi kebaikkan ku dirantau.

Dalam perjalananku dari satu rumah ke rumah yang lainnya untuk menemui orang-orang sesuai amanah Ibuku, perasaan ku mulai galau. Ada rasa sedih meninggalkan orang tua, sanak saudara dan kampung halaman mulai menggangu pikiranku.

Pada waktu itu aku juga tidak mampu menyembunyikan tangisku melihat kedua orang tua ku, terutama Ibu yang selalu mengajarkan ku Agama dan adat isti adat di Minang kabau. Namun berusaha sekuat tenaga menghilangkan sejenak kesedihan itu dengan tetap mengingat Kata-kata guruku yang bahkan sampai saat ini masih ku genggam terus dalam ingatanku.

Aku menuju kota bersama paman, kota diman paman ku bekerja. Selama dalam perjalanan khayalan mulai bermain main kembali dallam benakku.. Aku berhayal tentang kehidupan di kota dan pendidikan yang maju. Cuma itulah yang berulang-ulang muncul dari ingatan ku.

Satu hari perjalanan kami sampai di kota yang di tuju. Waktu pertama kali aku menapaki kakiku di kota tersebut ras gundah mulai muncul. Ingat orang tua, ingat saudara, ingat teman-teman di surau, semuanya berputar putar bagai lingkaran dan menyatu dalam benakku.

Sementara di kota ini tinggal hanya bertiga, pamanku istrinya dan aku. Terasa sangat asing bagiku hidup bersama pamanku ini. Aku merasa sama seperti kehidupan aku waktu di kampung, apa yang kubayangkan dan yang pernah dijanjikan paman pada Ibu dan Bapak ku waktu dikampung, sungguh sangat di berbeda.

Kala hari mulai senja, aku sudah mulai gelisah. Karena disini aku adalah sebagai palang pintu dikala malam hari. Kebetulan paada waktu itu kota tempat kami tinggal sangat-sangat tidak bersahaja dan tidak ramah.

Sudah hampir dua minggu aku tinggal bersama pamanku, tanda-tanda bahwa beliau akan menyekolahkan aku belum juga tampak. Keseharianku di rumah paman bekerja menggiling cabe, mencuci piring, layaknya seperti pekerja rumah tangga.

Setelah satu bulan di kota itu aku belum juga sekolah. Rasanya ingin pulang dan kembali kekampung, tapi aku tidak tahu jalan dan tentunya juga tak punya uang.. Yang aku punya hanya air mata, tiap malam air mata itu bercucuran, ingat Ibu dan semua yang pernah aku jalani di kampung.

Singkat cerita kekerasan hidup yang tidak layak, akhirnya aku dapati di kota kecil yang sering bersimbah darah itu. Mau tidak mau, aku harus menghadapi kenyataan itu. Dan kebetulan pamanku orang yang kurang pengetahuan dalam hal Agama.

Terlalu dini rasanya aku mengenal minuman keras di usia 11 thn itu. Tapi itulah kenyataannya. Aku putus sekolah. Kota yang aku bayangkan sejak kecil sudah menjadi neraka.

Rasanya waktu 5 bln aku bertahan di rumah pamanku sangat lama sekali, pada suatu hari terjadilah pertengkaran dengan bibi gara-gara mau bikin sayur toge, gara-gara pertengkaran itu nyaris kupingku hilang sebelah digigit bibiku.

Mulai dari kejadian itu aku merasa semangkin asing di dalam rumah itu, namun aku tetap menjalankan tugas ku di dapur seperti hari-hari sebelumnya. Kira-kira 2 minggu setelah kejadian itu aku pamit pada pamanku dan minta uang untuk ongkos mau pulang kampung, aku tak mau lagi dengan keadaan menyeramkan itu.

Pamanku tidak mengizinkan aku pulang ke kampung dengan alasan malu. Karena aku sudah 6 bulan bersamanya, tapi satupun janjinya pada Ibu Bapak belum ditepatinya. Mulai dari situ aku ingin mengembara, aku tidak pernah merasa takut dalam hal apapun. Pada saat itu aku sudah terbiasa melihat orang ditikam orang di kampak orang di bacok seolah-olah sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi buat aku.

Dengan bermodal nekat aku pergi keterminal bus untuk mencari tumpangan. Tujuan utamaku adalah pulang menemui Ibundaku dan semua keluarga di kampung. Sampai di terminal aku tidak menemukan kesulitan untuk menumpang dengan bus, walau mobil yang aku tumpangi itu tidak sampai ke kampung ku dan memang mobil yang langsung kekampungku juga tidak ada selain harus transit.

Satu hari perjalanan aku sampai di desa tempat aku di lahirkan, aku lansung menuju rumah menemui Ibunda ku. Tangis haru Ibunda memecah kesunyian malam, Bapak ku diam termanggu melihat keadaanku yang tidak seperti yang dibayangkan nya sesuai dengan apa yang pernah dijanjikan paman.

Setelah dua hari aku berada di kampung, maka aktifitas yang dulu ku jalani segera di mulai kembali, terkecuali sekolah. Malam-malam selalu aku isi dengan latihan pencak silat dan mengaji, karena itulah kebiasaan yang dilakukan oleh anak laki-laki di kampung ....

Tapi diluar kebiasaan yang sudah-sudah, ada yang berbeda dari sisih latihan yang umum nya dilakukan teman-teman sebayaku. Di luar itu ada latihan khusus bagiku, dimana tidak ada yang orang lain yang boleh tau pada saat itu.

Musim bertukar tahun berganti. Sedang asik-asiknya aku berlajar tentang kejadian dan sifat-sifat. Bapakku diajak adik sepupunya ke tanah jawa. Kebiasaan kami waktu itu menyebut Jakarta, bandung atau kota mana saja di pulau Jawa dengan dengan sebutan tanah Jawa. Ya kami tidak tahu Jakarta, yang kami tau cuma Jawa.

Kurang lebih 4 bln di kampung aku di ajak bapakku ke Jawa. Maka berangkatlah kami bersama sama ke tanah Jawa melalui jalan darat selama 22 hari baru sampai di Jakarta.

Bersambung.................

Perjalanan seorang supir

27

Perjanan Seorang Supir menuju Jalan Sufi part 2

Dalam benakku selama dalam perjalanan, aku akan tinggal di kota besar (IBU KOTA NEGARA), ternyata setelah aku sampai di tujuan tidak seperti apa yang kubayangkan. Kami sampai di sebuah desa yang bernama SUKA MANDI kecamatan Ciasam Girang Kabupaten Subang Propinsi Jawa Barat. Minggu pertama kami sampai di Sukamandi.. Aku dan Bapak ku mulai merapih-rapihkan tempat untuk berjualan kaki lima di Depan Sebuah RESTORAN milik adik sepupu Bapakku.

Malang tak dapat di tolak mujur tak dapat di raih itulah pepatah orang-orang di kampungku dulu. Pekerjaan baru yang aku geluti adalah membantu Bapakku berjualan di kaki lima yang umumnya jualan mulai dari jam 17:00 WIB sampai jam 09:00 WIB.

Begitulah keseharian hidupku sampai bertahun-tahun lamanya. Dan pada akhirnya singkat cerita kami dapat berkumpul dengan Ibundaku kakak dan adik-adikku di Sukamandi.

Berselang waktu kurang lebih 6 thn kami berkumpul di sukamandi. Saat itu aku berusia 18 tahun. Ujian ALLAH swt kembali menerpa keluarga kami.. Kehidupan keluarga kami sedang mulai membaik timbul fitnah dari keluarga bapak. Tanpa ada penjelasan sedikitpun dari adik sepupu bapakku yang punya restoran tempat kami bejualan, kami di usir dari tempat itu. Mendengar berita seperti itu bapak dan Ibundaku hanya pasrah dan diam. Berselang waktu 3 jam, setelah itu bapakku sudah mulai mengumpulkan barang barang untuk mempersiapkan diri kembali pulang ke kampung.

Ke esokkan hari nya Bapak dan Ibundaku beserta kakak dan adik-adikku berangkat naik mobil umum kembali ke kampung. Aku tidak ikut pulang ke kampung. Entah kenapa, sejak hari itu aku yang taat beragama dari kecil berubah arah. Ada semacam rasa dendam dan marah dan pemberontakan dalam diri. Aku ingin jadi pereman. Ya, yang ada dalam pikiranku aku harus bisa jadi jagoan di terminal bus LAPANGAN BANTENG waktu itu.

Maka mulai saat itu mulailah aku melalang buana mencari ILMU dari ujung kulon Banten, sampai ke banyuwangi aku datangi orang-orang yang dianggap punya kelebihan.. Dalam pikiranku seakan sudah terpatri hidup atau mati aku harus bisa jadi centeng dan tidak harus bekerja lagi, jadi pecundang dan di usir kesana kemari.

Sudah cukup rasanya bekal untuk aku turun ke dunia yang selama ini berlawanan dengan batinku, akhirnya aku paksakan juga untuk mencobanya, namun hati kecilku tetap berkata, ini adalah jalan yang salah. Aku hidup serampangan tiada hari-hari yang ku lalui tanpa meminum minuman beralkohol dan ganja.

Rasa luka dan kecewa yang terpendam dalam dada membuat aku jadi orang yang tidak pernah merasa takut dalam hal apapun. Rasqa takut seakan sudah pergi jauh dari diri ku. Tapi satu hal yang berubah, aku menjadi orang yang sangat sensitif dan peka melihat orang-orang yang susah. Karena aku selalu melihat diriku ada dalam setiap kesuahan itu.

Bertahun-tahun aku lalui kehidupan yang tidak ada kejelasan nya sampai-sampai aku tidak mau tau lgi tentang diriku sendiri. Pada suatu saat aku sedang duduk-duduk di terminal bus, aku melihat ibu-ibu yang sedang menggendong bayi, sementara tiga anknya yang lain mengikuti ibu itu sambil memegang baju sang ibu menyebrangi jalan pembatas masuk terminal bus.

Melihat adegan itu, aku merasa disentakkan dari kehidupanku yang gelap selama ini, betapa sabar sang ibu itu menuntun dan menjaga anak anaknya. Seketika itu pikiranku melayang, ingat kembali waktu masa aku kecil di kampung bersama Ibundaku. Tanpa ku sadari air mata perlahan mulai menetes. Aku rindu Ibu & Bapak dan saudara-saudarku yang sudah berbilang tahun lamanya kami berpisah.

BERSAMBUNG............

Perjalanan seorang supir...........

Perjalanan Seorang Supir Menuju Jalan Sufi : Part 1
Terlahir Kurang lebih setengah Abad yang lalu, ditengah keluarga yang sangat miskin di sebuah desa Tanjung Durian Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar Propinsi SUMATERA BARAT.

Karena deraan hidup yang tidak berkecukupan jangankan untuk mengecap pendidikan tinggi seperti teman2 sebaya untuk makan sekali seharipun susah di dapatkan.............

Di Usia 8 tahun sudah harus berjuang ketengah hutan bersama sama dengan Bapak / Ibu dan dua orang kakak perempuan mencari kayu bakar untuk di jual atau di tukar dengan beras untuk menyambung hidup hari ke hari.

Dengan berbekal harapan dan didikan Agama yang selalu ditanamkan oleh Ibundaku. Aku tidak pernah mengeluh walau terkadang perut lapar, aku tidak ingin mengecewakan apa lagi untuk mempermalukan orang yang sangat aku sayang dan ku hormati ( Bapak & Ibu ). Kebiasaan dan tugasku yang sudah dibagi oleh Ibu.

Di usia 7 tahun aku sudah terbiasa malam hari berpisah dengan Bpk/Ibu dan kakak. Umumnya di desaku Anak laki2 di Usia 7 tahun tidak ada yang tidur di rumah orang tuanya. Kami dibiasakan tidur di SUARAU (musholah). Pada waktu itu ingin rasanya aku menyampaikan sesuatu pertanyaan kepada ke dua orang tuaku tapi pertanyaan itu tak kunjung anggup untuk aku tanyakan pada mereka, aku takut mengecewakan beliau.

Tradisi di desaku anak laki-laki wajib belajar pencak silat dan tidur di surau. Sebelum kami tidur guru mengaji kami sering bercerita tentang perjalanan para NABI dan RASUL. Kami tidur di surau beralaskan tikar sobek itupun kadang-kadang ada dan kadang-kadang tidak ada tikar. Di tengah malam yang begitu dingin, sering aku melamun dan berkhayal.

Pagi (subuh) kami bangun sama-sama dan Sholat berjamaah, setelah itu baru pulang ke rumah masing-masing.. Dan akulah orang yang paling sering dijemput orang tuaku ke surau untuk dibawa pulang ke rumah. Bukannya aku dijemput karena terlambat pulang, tapi karena aku sering tak mampu lagi berjalan pulang karena kelaparan........

Dan biasanya jam 7.00 pagi kami sudah berangkat berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 1,5 Km. Jika jam 12 datang dan lonceng sekolah berbunyi menandakan sudah boleh pulang, aku selalu berlari agar cepat sampai di rumah dan segera menyerbu piring nasi yang sudah dibagikan oleh Ibu. Cukup tidak cukup nasi sepiring itulah jatah makan pada hari itu.

Setelah makan dan sholat Dzuhur, aku kami bersama-sama berangkat kehutan mencari kayu untuk di tukar dengan beras, begitah keseharian kami. Sekitar jam 16:00 mau masuk waktu ashar barulah kami pulang dengan beban kayu di pundak masing-masing.

Sampai di rumah mandi dan dapat jatah makan seadanya. Jam 17:30 berangkat lagi ke Surau untuk sholat Maghrib berjamaah, lalu mengaji sampai waktu Isya, setelah sholat Isya kembali ke rutinitas belajar pencak silat. Begitulah keadaan ku bertahun-tahun di kampung yang selalu aku kenang, disitulah aku menempah kehidupanku sampai hari ini tetap aku jaga apa yang kumilkii .

Satu satunya cita- cita di masa kecil itu, ingin pergi MERANTAU, ingin merubah nasibku yang serba sulit. Hampir setiap subuh aku berkhayal ingin pergi ke kota seperti cerita orang-orang yang sudah pernah MERANTAU.

Tapi itu hanya khayalan belaka, nyatanya aku sampai kelas 4 SD masih tetap tidak berubah dari kehidupan yang sudah sudah. Selama aku sekolah dari kls 1 SD sampai naik kls 5 SD belum pernah kakiku merasakan yang namanya sandal, apalagi sepatu. aku sekolah dengan kaki telanjang.

Namun daalam kegetiran hidup keluarga kami, aku tidak mau patah semangat seperti yang selalu di ajarkan guru tempat kami mengaji, yang masih bersih dalam ingatanku kata-kata beliau sampai saat ini adalah; “ALLAH benci sama orang yang suka berkeluh kesah dan cengeng,” kata guruku.

Karena itu jualah barangkali, dengan rutinitas kehidupan siang dan malam selama 4 thn yang tidak ada perubahan itu. Keinginan hati untuk pergi meninggalkan kampung, semakin kuat.

Alhamdulillah waktu aku naik kls 5 SD, pamanku menawarkan untuk tinggal bersamanya di sebuah kota kecil waktu itu dan beliau berjanji akan menyekolahkan aku. Waktu itu bapakku menetujui dan berkata bawa sajalah. Sementara disisi lain Ibunda ku diam tanpa kata, yang terdengar hanyalh isak tangis untuk melepaskan anak laki-laki tertuanya yang akan pergi kerantau orang, diusia muda yang baru 11 tahun.

Sebelum aku berangkat dengan paman, Ibu selalu berpesan agar aku datang untuk menemui orang-orang tua (tetua) dikampung yang pernah mengajarkan aku dalam segala hal tentang apa saja demi kebaikkan ku dirantau.

Dalam perjalananku dari satu rumah ke rumah yang lainnya untuk menemui orang-orang sesuai amanah Ibuku, perasaan ku mulai galau. Ada rasa sedih meninggalkan orang tua, sanak saudara dan kampung halaman mulai menggangu pikiranku.

Pada waktu itu aku juga tidak mampu menyembunyikan tangisku melihat kedua orang tua ku, terutama Ibu yang selalu mengajarkan ku Agama dan adat isti adat di Minang kabau. Namun berusaha sekuat tenaga menghilangkan sejenak kesedihan itu dengan tetap mengingat Kata-kata guruku yang bahkan sampai saat ini masih ku genggam terus dalam ingatanku.

Aku menuju kota bersama paman, kota diman paman ku bekerja. Selama dalam perjalanan khayalan mulai bermain main kembali dallam benakku.. Aku berhayal tentang kehidupan di kota dan pendidikan yang maju. Cuma itulah yang berulang-ulang muncul dari ingatan ku.

Satu hari perjalanan kami sampai di kota yang di tuju. Waktu pertama kali aku menapaki kakiku di kota tersebut ras gundah mulai muncul. Ingat orang tua, ingat saudara, ingat teman-teman di surau, semuanya berputar putar bagai lingkaran dan menyatu dalam benakku.

Sementara di kota ini tinggal hanya bertiga, pamanku istrinya dan aku. Terasa sangat asing bagiku hidup bersama pamanku ini. Aku merasa sama seperti kehidupan aku waktu di kampung, apa yang kubayangkan dan yang pernah dijanjikan paman pada Ibu dan Bapak ku waktu dikampung, sungguh sangat di berbeda.

Kala hari mulai senja, aku sudah mulai gelisah. Karena disini aku adalah sebagai palang pintu dikala malam hari. Kebetulan paada waktu itu kota tempat kami tinggal sangat-sangat tidak bersahaja dan tidak ramah.

Sudah hampir dua minggu aku tinggal bersama pamanku, tanda-tanda bahwa beliau akan menyekolahkan aku belum juga tampak. Keseharianku di rumah paman bekerja menggiling cabe, mencuci piring, layaknya seperti pekerja rumah tangga.

Setelah satu bulan di kota itu aku belum juga sekolah. Rasanya ingin pulang dan kembali kekampung, tapi aku tidak tahu jalan dan tentunya juga tak punya uang.. Yang aku punya hanya air mata, tiap malam air mata itu bercucuran, ingat Ibu dan semua yang pernah aku jalani di kampung.

Singkat cerita kekerasan hidup yang tidak layak, akhirnya aku dapati di kota kecil yang sering bersimbah darah itu. Mau tidak mau, aku harus menghadapi kenyataan itu. Dan kebetulan pamanku orang yang kurang pengetahuan dalam hal Agama.

Terlalu dini rasanya aku mengenal minuman keras di usia 11 thn itu. Tapi itulah kenyataannya. Aku putus sekolah. Kota yang aku bayangkan sejak kecil sudah menjadi neraka.

Rasanya waktu 5 bln aku bertahan di rumah pamanku sangat lama sekali, pada suatu hari terjadilah pertengkaran dengan bibi gara-gara mau bikin sayur toge, gara-gara pertengkaran itu nyaris kupingku hilang sebelah digigit bibiku.

Mulai dari kejadian itu aku merasa semangkin asing di dalam rumah itu, namun aku tetap menjalankan tugas ku di dapur seperti hari-hari sebelumnya. Kira-kira 2 minggu setelah kejadian itu aku pamit pada pamanku dan minta uang untuk ongkos mau pulang kampung, aku tak mau lagi dengan keadaan menyeramkan itu.

Pamanku tidak mengizinkan aku pulang ke kampung dengan alasan malu. Karena aku sudah 6 bulan bersamanya, tapi satupun janjinya pada Ibu Bapak belum ditepatinya. Mulai dari situ aku ingin mengembara, aku tidak pernah merasa takut dalam hal apapun. Pada saat itu aku sudah terbiasa melihat orang ditikam orang di kampak orang di bacok seolah-olah sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi buat aku.

Dengan bermodal nekat aku pergi keterminal bus untuk mencari tumpangan. Tujuan utamaku adalah pulang menemui Ibundaku dan semua keluarga di kampung. Sampai di terminal aku tidak menemukan kesulitan untuk menumpang dengan bus, walau mobil yang aku tumpangi itu tidak sampai ke kampung ku dan memang mobil yang langsung kekampungku juga tidak ada selain harus transit.

Satu hari perjalanan aku sampai di desa tempat aku di lahirkan, aku lansung menuju rumah menemui Ibunda ku. Tangis haru Ibunda memecah kesunyian malam, Bapak ku diam termanggu melihat keadaanku yang tidak seperti yang dibayangkan nya sesuai dengan apa yang pernah dijanjikan paman.

Setelah dua hari aku berada di kampung, maka aktifitas yang dulu ku jalani segera di mulai kembali, terkecuali sekolah. Malam-malam selalu aku isi dengan latihan pencak silat dan mengaji, karena itulah kebiasaan yang dilakukan oleh anak laki-laki di kampung ....

Tapi diluar kebiasaan yang sudah-sudah, ada yang berbeda dari sisih latihan yang umum nya dilakukan teman-teman sebayaku. Di luar itu ada latihan khusus bagiku, dimana tidak ada yang orang lain yang boleh tau pada saat itu.

Musim bertukar tahun berganti. Sedang asik-asiknya aku berlajar tentang kejadian dan sifat-sifat. Bapakku diajak adik sepupunya ke tanah jawa. Kebiasaan kami waktu itu menyebut Jakarta, bandung atau kota mana saja di pulau Jawa dengan dengan sebutan tanah Jawa. Ya kami tidak tahu Jakarta, yang kami tau cuma Jawa.

Kurang lebih 4 bln di kampung aku di ajak bapakku ke Jawa. Maka berangkatlah kami bersama sama ke tanah Jawa melalui jalan darat selama 22 hari baru sampai di Jakarta.

Bersambung..................